Site Loader

Pemerintah resmi memberlakukan kenaikan tarif cukai rokok pada Rabu (1/1) kemarin. Kenaikan cukai rokok tersebut merupakan pelaksanaan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 152 tentang Tarif Cukai Hasil Tembakau. Aturan tersebut mengatur kenaikan tarif cukai rokok terbesar yakni ada pada jenis rokok Sigaret Putih Mesin (SPM) yaitu sebesar 29,96 persen. Untuk cukai rokok jenis Sigaret Kretek Tangan Filter (SKTF) naik sebesar 25,42 persen, Sigaret Kretek Mesin (SKM) 23,49 persen, dan Sigaret Kretek Tangan (SKT) 12,84 persen dan secara otomatis telah membuat harga rokok di tingkat konsumen naik sekitar Rp2.000- Rp3.000 per bungkus.

Berbicara tentang rokok, di kalangan masyarakat selalu menuai pro dan kontra. Bahkan di beberapa artikel menyatakan bahwa rokok membawa manfaat kesehatan bagi si perokok tersebut. Namun, dilansir dari https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-3407329/ada-yang-bilang-rokok-bermanfaat-kemenkes-itu-denying Menurut Direktur Pengendalian Penyakit Tidak Menular, Kementerian Kesehatan, dr Lily S. Sulistyowati, MM, pendapat yang seperti itu biasanya hanya penyangkalan atau denying saja.

Dalam acara peresmian iklan layanan kesehatan masyarakat tentang bahaya rokok, dr Lily mengatakan bahwa bukti dari bermacam-macam studi sudah jelas tentang bahaya rokok. Faktanya tiga penyakit katastropik seperti stroke, penyakit jantung koroner, dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOP) sebagian besar terjadi pada perokok.

“Persentase penderita itu 80 persen ke atas perokok. Penelitian yang menyebut bahaya tembakau itu sudah banyak banget. Tapi kalau kemudian ada orang melihat manfaat dari tembakau ya itu semacam denying karena dia sudah adiksi, ketergantungan,” kata dr Lily ketika ditemui di Pusat Perfilman Haji Usmar Ismail, Kuningan, Jakarta Selatan, Jumat (27/1/2017).

Dr dr Agus Dwi Susanto, SpP(K), dari RSUP Persahabatan mengatakan apa yang disebut ‘manfaat’ dari konsumsi rokok ini kemungkinan adalah karena efek stimulus nikotin. Ketika rokok dihisap dan nikotin masuk ke otak maka ia akan merangsang tubuh menciptakan efek seperti menekan nafsu makan, stres, dan meningkatkan konsentrasi. Hanya saja dampak buruknya yang akan terjadi nanti juga lebih besar. Selain dari peningkatan risiko berbagai penyakit, efek stimulus akan berbalik menjadi gejala negatif. Contohnya seperti mudah marah, rasa nyeri, dan tidak nyaman bila konsumsi nikotin dihentikan.

Jauh sebelum itu, Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah mengeluarkan fatwa haram soal merokok di tempat umum sejak 2009. Sebab, merokok samanya dengan membakar uang, merusak kesehatan, di mana dampak negatifnya jauh lebih besar ketimbang positifnya. Padahal di setiap kemasan rokok sudah diperingatkan tentang bahaya merokok hingga diberi gambar foto penyakit ‘ngeri dan ekstrim’ dikarenakan efek dari merokok. Bahkan aturan mengenai larangan merokok di tempat-tempat tertentu sudah disahkan oleh pemerintah dan sanksinya tidak main-main bagi yang melanggar, termasuk larangan merokok di Fasilitas Pelayanan Kesehatan (Klinik, Puskesmas dan Rumah Sakit) dan Fasilitas Umum lainnya.

Bagaimanapun, merokok banyak sisi negatifnya dibanding sisi positifnya. Merokok tidak baik untuk kesehatan dan membuat rasa penasaran kepada orang yang memulainya, Sehingga menimbul kan kecendurungan yang tidak baik atau menyebabkan kecanduan terhadap rokok. Sayangi diri Anda dan Keluarga. Stop merokok dari sekarang!

Sumber:

https://www.kompasiana.com/nur.amalina22/55003933a333111870510121/pro-kontra-merokok

https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-3407329/ada-yang-bilang-rokok-bermanfaat-kemenkes-itu-denying

Post Author: rsi